Minggu, 16 Oktober 2016

Zero Fucking Fighter



Kurasakan lampau
Jalan yang telah arung dengan telapak yang menolak gopah
Telusuri gema raungan guntur dengan tegar menatap mengudara
Tentu saja kita tau yang ditarung adalah apa
Dengan genap hati terpa niat mundur dan lajukan langkah per langkah teratur
Susuri yang tak pernah terduga, yang tak pernah dicugak

Kucurkan laut asin yang seringai alir dalam pelupuk
Kemarau menusuk kerak kerongkong yang tak berlendir lagi
Getir luka pedih yang terbuka tak lagi terasa, bukan karna kebal sanggup
Tentu karnakan derita yang tlah lengkapi jalan neraka ini
Neraka yang melahirkan petarung disaat kiamat menjemput

Sssst diamlah
Perbandingan kasta nista dan kasta munafik tak perlulah terjadi
Tak perlu debat kusir, dunia mana yang ideal bagi kaum pemuja iblis
Malulah pada dunia yang menertawakan isinya terbahak
Bagaimana membuat segala sesuatu menjadi sempurna, tanpa campur tangan pencipta
Berharap sekalikah kaum evolusi mani menjadi makhluk abadi?

Hai kaum yang mengikuti paham matematis dan khayal
Pahamilah bahwa sekedar bayang dan mengangguk bukanlah hal benar
Jangan tuai kata problema menjadi sukar tuk dicerna
Bangun dan gali terowongan diri tuk temukan yang benar mutlak sejati
Persetan periblis pergoblok yang setuju dengan paham yang tak bisa dibuktikan
Hal dari 0 lah yang mungkin bisa menyelamatkan dunia titipan penciptamu
Yang bahagia, yang tak lama lagi kembali ke sang pencipta

Senin, 16 Mei 2016

Malam

Hai..
Selamat malam
Malam iini kau menemukanku dalam kesendirian
Kembali kau temukan aku dalam keadaan ini
Keadaan yang sama, yang mungkin buatmu bosan
Maafkan aku malam..
Saat saat waktumu aku slalu bertindak sama
Kau terlalu damai sehingga ku menenggelamkan diri
Merasa nyaman, tak peduli walaupun itu sepi
Sayang bagiku jika waktumu terpakai aktif
Aku selalu merindukanmu walau gelap

Hai..
Selamat malam
Ku jumpakan lagi dengan dirimu yang redup
Setelah ku eluhkan keringatku yang jatuh tatkala terik
Dan ku pasang wajah suntuk kala fajar membunuhmu
Kuberi nafas pagi, walau tetap hatiku untukmu
Kala ku hembuskan nafas pada sebatang daun
Kala ku siuk sedikit kopi ke dalam kerongkonganku
Kala semua terlelap dan bermimpi diatas mata terpejamnya
Kuingin kedamaian itu..

Hai..
Selamat malam
Kalian nikmatilah malam senyaman yang kalian mau
Aku disini, membunuh pagi untuk sementara
Bersama kegelapan yang kuinginkan

Kamis, 19 November 2015

Menjerakan Diri Berhadap Cinta

Siapakah pembuat luka yang dalam ini...
Menusukkan benda tajam dengan sekuat yang ia mampu
Memperdalamnya lagi sampai mati rasa yang terasa
Memejamkan mata tanpa cahaya yang seharusnya cahayai kelopak
Hingga nafas pun berhenti pada akhirnya..

Sajak yang kulebihkan namun rasanya hal serupa teralami
Buatku mati tanpa merasakan sekarat...
Aku tak bisa menerimanya walau telah terjadi
Memilihnya dan membuat harapan yang ku ambang tinggi
Hancur lebur berkeping...

Rasanya...
Ingin kubunuh orang yang mebuatmu menjadi jalang
Atau membunuhmu setelah kau membunuhku dengan sekali mati
Tak bisa lagi kutentukan..
Terlalu banyak pertimbangan untuk menghancurkan sesuatu
Setelah diriku hancur...

Wahai dewa cinta yang pemujamu selalu agungkan dirimu
Wahai busur dan panah cinta yang melesat tepat selalu akan sasaran
Apakah aku telah salah..
Atau teori dan praktisimu yang mendoktrinku untuk percaya
Bahwa cinta sejati adalah dimana dirimu merasa nyaman?

Jika iya..
Tunjukkanlah cinta sejati yang kau sabda kan pada fana
Agar pemujamu tau..
Bahwa cinta tetaplah hal yang mereka tau, suci putih dan abadi..
Jika tidak..
Tega nian kau buat angkara dimana mereka mengagungkanmu diatas kepalanya
Mempercayai semua yang kau sabdakan
Membuatnya membusuk sampai mati tetap mempercayainya
Termasuk diriku kini di dalamnya..

Jangan biarkan aku tak mempercayai cinta
Atau cinta lah yang membuatku tak mempercayai rasa yang kadang ku rasakan
Yaitu detik detik terakhir sebelum kehancuranku
Atau aku akan merubah drastis kehidupanku dengan prinsip berputar
Merusak sistem cinta..
Bahwa untuk hidup bersama kekasih yang nanti kau miliki.. lagi

Tak perlukan lagi “Cinta” di dalamnya

Pasti Bahagia

Hai masa depan..
Kau bilang padaku bahwa hidupku akan bahagia
Di atas semua kebahagian orang lain pula di saat yang sama
Biarkan senyum ini merekah..
Melihat kebahagiaan mereka sebagai sebab ku bahagia

Tawa demi tawa terkumandang
Menghias langit cipta miliknya yang semakin bercahaya
Disaat musim semi yang semakin hijau dan terasa sangat hidup
Karna dendangan alam menyertai..
Bersyukur atas kedamaian yang kau berikan

Hai masa depan..
Aku tetap mempercayaimu sebagai akhir kisah hidupku yang jenuh ini
Masih kunikmati pahit yang harus dilewati
Akan tetap ku bertahan bersama senyum yang kupasang di raut wajah ini
Menantimu...
Tanpa sedikitpun meneteskan air mata kesedihan karna keluhan
Hanya cerita manis yang akan menjadi akhir hidupku
Karna ku yakin aku akan bahagia dan pasti bahagia, sampai aku menemuinya

Walau waktu tak bisa mempercepatnya
Tapi penantianku adalah rumus yang tak bisa tak kau penuhi..

Aku pasti bahagia.. J

Tak Bisa Tanpamu

Selama...
Aku tak mampu menjangkaumu di ketinggian
Kau terbang ke langit ketujuh dengan sayap putihmu
Memaksaku menengadahkan wajah ke udara
Seraya melihatmu bersama cahaya yang pergi
Akankah ku mampu bila tanpamu..

Satu pekan kau tak disisiku..
Serasa mati hati ini dan tak mungkin terisi lagi
Bukan karna ku tak bisa membuka pintu ini untuk orang yg memaksanya terbuka
Hanya saja...
Hati ini hanya menerimamu sampai akhir hidupnya

Akankah kau tega, terus membiarkanku
Menaruh harap di sepanjang waktu sampai aku tak lagi rasakan sejuknya dunia
Menaruh upaya kedatanganmu lagi
Mengepakkan sayap, menghampiriku di depan wajah ini
Sehingga..
Ku mampu bertahan di atas dunia yang mulai gelap tanpamu

Aku hilang arah
Aku tersesat tanpa nur yang menerangi arah tujuanku
Menuju titik dimana aku tetap harus menemuimu
Karna tak mungkin ku mencari kehidupan yang tiada dirimu
Karna aku tercipta untukmu..