Siapakah pembuat
luka yang dalam ini...
Menusukkan benda
tajam dengan sekuat yang ia mampu
Memperdalamnya
lagi sampai mati rasa yang terasa
Memejamkan mata
tanpa cahaya yang seharusnya cahayai kelopak
Hingga nafas pun
berhenti pada akhirnya..
Sajak yang
kulebihkan namun rasanya hal serupa teralami
Buatku mati tanpa
merasakan sekarat...
Aku tak bisa
menerimanya walau telah terjadi
Memilihnya dan
membuat harapan yang ku ambang tinggi
Hancur lebur
berkeping...
Rasanya...
Ingin kubunuh orang
yang mebuatmu menjadi jalang
Atau membunuhmu
setelah kau membunuhku dengan sekali mati
Tak bisa lagi
kutentukan..
Terlalu banyak
pertimbangan untuk menghancurkan sesuatu
Setelah diriku
hancur...
Wahai dewa cinta
yang pemujamu selalu agungkan dirimu
Wahai busur dan
panah cinta yang melesat tepat selalu akan sasaran
Apakah aku telah
salah..
Atau teori dan
praktisimu yang mendoktrinku untuk percaya
Bahwa cinta sejati adalah dimana dirimu merasa
nyaman?
Jika iya..
Tunjukkanlah
cinta sejati yang kau sabda kan pada fana
Agar pemujamu
tau..
Bahwa cinta
tetaplah hal yang mereka tau, suci putih dan abadi..
Jika tidak..
Tega nian kau
buat angkara dimana mereka mengagungkanmu diatas kepalanya
Mempercayai semua
yang kau sabdakan
Membuatnya membusuk
sampai mati tetap mempercayainya
Termasuk diriku kini
di dalamnya..
Jangan biarkan
aku tak mempercayai cinta
Atau cinta lah
yang membuatku tak mempercayai rasa yang kadang ku rasakan
Yaitu detik detik
terakhir sebelum kehancuranku
Atau aku akan
merubah drastis kehidupanku dengan prinsip berputar
Merusak sistem
cinta..
Bahwa untuk hidup
bersama kekasih yang nanti kau miliki.. lagi
Tak perlukan lagi
“Cinta” di dalamnya