Pagi menjelang bukan mentari yang menyambutku.
Tapi hujan yang gemercik yang terngiang di telingaku.
Kulihat mawar kini bukanlah tersenyum.
Ia menatapku gelisah karna diisi oleh tangisan langit.
Jika.
Langit menangisi apa yang dikumandangkan di bumi.
Atau mewakili tangisanmu karna kecewa padaku.
Maka kan ku coba menjadi arak awan putih.
Yang coba agar hanya aku saja yamg tertimpa cerau itu.
Maafkan aku.
Jika malam itu dapat kuputar lagi.
Badai semalam kan kucoba cegah.
Agar gema hujan deras tak terdengar oleh indra.
Agar kilat emas tak menyambar dunia ini.
Tapi.
Yang dapat kuawali tak bisa ku akhiri.
Gertak hujan telah basahi dunia ini.
Gemerciknya pun tlah menusuk hati.
Andai kau bisa mendengar kalbu yang kusuarakan.
Maafkan aku, kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar